Dari "Macan jadi Kucing": KPK Kalah Ganas dari SPRM, Nyali Lembek saat Bayang-Bayang Jokowi
Jakarta, MI – Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, melontarkan kritik keras terhadap mandulnya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia secara terbuka membandingkan kondisi Komisi Pemberantasan Korupsi saat ini dengan Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) yang dinilainya justru kian galak dan menakutkan elite politik.
Islah menegaskan, sekitar 15 tahun lalu Indonesia berada di posisi terdepan. KPK kala itu dijadikan contoh oleh Malaysia karena independensinya yang kokoh dan keberaniannya menyentuh pusat kekuasaan. Namun situasi tersebut, menurutnya, kini berbalik total.
“Dulu Malaysia berkaca pada KPK. Mereka kagum pada independensi kita. Sekarang justru kita yang tertinggal jauh,” ujar Islah melalui akun X miliknya, dinukil Monitorindonesia.com, Jumat (16/1/2026).
Ia menyebut SPRM hari ini tampil sebagai lembaga penegak hukum yang benar-benar merdeka, bebas dari sandera kepentingan politik, dan memiliki daya gentar yang nyata. Keberanian itu, kata Islah, dibuktikan dengan langkah konkret tanpa kompromi.
“SPRM sudah memenjarakan mantan Perdana Menteri Najib Razak, bahkan berani membongkar sindikasi korupsi di tubuh Angkatan Tentera Malaysia hingga menyeret jenderal-jenderal ke penjara,” tegasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Islah, menciptakan tekanan psikologis luar biasa di kalangan elite Malaysia. Para politisi memilih berhati-hati karena sadar aparat antirasuah benar-benar mengawasi setiap gerak.
“Di sana, politisi takut main-main. Mereka merasa mata SPRM ada di mana-mana,” katanya.
Sebaliknya, Islah menilai KPK kini kehilangan taji dan nyali. Lembaga yang dulu disegani itu dianggap lebih sibuk mengelola citra ketimbang menegakkan hukum secara tegas dan adil.
“KPK sekarang? Hebatnya cuma di publikasi dan media. Penindakan kerasnya entah ke mana,” kritiknya tajam.
Ia bahkan menyinggung keberanian KPK dalam menyentuh lingkar kekuasaan. Menurut Islah, memanggil figur yang dekat dengan pusat kekuasaan saja sudah menjadi hal yang terlalu berani bagi KPK saat ini.
“Jangankan memanggil Joko Widodo, memanggil Bobby Nasution saja nyalinya ciut. Menyentuh Fuad Maktour pun mentok di pencekalan,” sindirnya.
Islah menutup pernyataannya dengan nada pesimistis. Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi pahit yang meruntuhkan harapan publik terhadap perang melawan korupsi di Tanah Air.
“Ini ironi besar. Aura pesimisme terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia makin terasa,” pungkasnya.
Topik:
KPK SPRM Islah Bahrawi Jokowi pemberantasan korupsi kritik KPK antirasuah politik Indonesia korupsi MalaysiaBerita Sebelumnya
BNPB Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Utara, Rampung Sebelum Ramadan
Berita Selanjutnya
KLH Gugat Rp4,8 T Enam Perusahaan Diduga Picu Banjir Sumut
Berita Terkait
Diduga Terima Rp707 Juta dari Proyek Fiktif PT PP, KPK Didesak Tersangkakan Direktur PT Adipati Wijaya
2 menit yang lalu
Aset Ridwan Kamil Disisir KPK: Jejak Kekayaan Diselidiki Hingga ke Luar Negeri
3 menit yang lalu
Komisaris PT PP Ikut Disorot, Ketum PWMOI Jusuf Rizal: “Kalau Masif, Patut Diduga Komisaris Terlibat”
1 jam yang lalu
Skandal Proyek Fiktif PT PP Makin Busuk: Pucuk Pimpinan Disorot, Publik Tagih Tanggung Jawab Korporasi
1 jam yang lalu