Prajurit TNI Asal Asahan Meninggal di Papua, Diduga Dianiaya Senior

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 2 Januari 2026 14:47 WIB
Keluarga Pratu Farkhan Sauqi Marpaung (Foto: Repro)
Keluarga Pratu Farkhan Sauqi Marpaung (Foto: Repro)

Papua, MI - Seorang prajurit TNI yang tengah bertugas menjaga perbatasan RI–Papua Nugini dilaporkan meninggal dunia di Papua. Korban diketahui bernama Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, prajurit asal Kabupaten Asahan, Sumatra Utara.

Pratu Farkhan diduga meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya saat menjalankan tugas di Pos Sanepa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Pegunungan. Korban tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon (Yonif) 113/Jaya Sakti yang menjalankan pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini.

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu kedatangan jenazah di rumah duka yang berlokasi di Desa Hessa Air Genting, Kabupaten Asahan. Rencananya, jenazah Pratu Farkhan akan diterbangkan dari Timika, Papua, menuju kampung halamannya.

Ayah korban, Zakaria Marpaung, mengungkapkan bahwa anaknya diduga mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh seniornya berpangkat Kopral Dua saat bertugas di pos. Dugaan tersebut didasarkan pada informasi yang diterima keluarga dari rekan-rekan sesama prajurit korban.

"Kami dapat informasi dari sepupunya," katanya, Jumat (2/1/2026).

Zakaria menuturkan, berdasarkan keterangan yang diterimanya, anaknya sempat mengeluhkan sakit disertai menggigil saat berada di pos. Rekan-rekan korban kemudian menyarankan agar dia berjemur untuk menghangatkan badan.

Namun, saat berjemur itulah korban diduga justru mendapat perlakuan kekerasan serta hukuman fisik dari seniornya yang berpangkat Kopda. Korban disebut dipukul menggunakan ranting kayu dan ditendang pada bagian rusuk dada.

Melihat kondisi korban yang semakin melemah, rekan-rekannya segera membawanya ke bagian kesehatan untuk mendapatkan pertolongan. Namun, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

"Kurang lebihnya anak saya sakit lalu menghangatkan badan. Lalu datang seniornya menanyakan kondisi korban dan membantu memijat. Kemudian datang seniornya, Kopda ini. Anak saya dibawa ke samping, lalu disuruh menunduk dan dipukul pakai ranting punggungnya. Lalu ditendang sampai jatuh," terangnya.

Zakaria juga menyampaikan rasa kecewa atas peristiwa yang menimpa putranya hingga meninggal saat menjalankan tugas negara di Papua.

"Walau saya hanya sekdes, keluargaku ada TNI Polri. Saya kecewa anakku bukan mati diujung senjata, tapi oleh sesama TNI, di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI," ucapnya.

Jenazah prajurit TNI yang meninggal di Papua itu rencananya akan diterbangkan ke kampung halamannya di Desa Hessa Air Genting, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, untuk dimakamkan.

Keluarga korban menyatakan akan menempuh jalur hukum guna memastikan penyebab pasti kematian prajurit TNI tersebut.

Topik:

prajurit-tni-meninggal penganiayaan papua