Kredit BNI Tumbuh 15,9% pada 2025, Ditopang Sektor Produktif

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 3 Februari 2026 17 jam yang lalu
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok MI)
Ilustrasi BNI. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan atau year on year (yoy) sepanjang 2025. Kinerja positif ini turut mendorong laba bersih konsolidasi BNI mencapai Rp20 triliun pada tahun tersebut.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan menyampaikan sepanjang 2025 perseroan menghadapi berbagai tekanan eksternal, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. 

Namun, tantangan tersebut dihadapi dengan memperkuat pendanaan, menerapkan disiplin manajemen risiko, serta memperluas penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Putrama menjelaskan, pertumbuhan kredit 15,9% didukung oleh ekspansi ke sektor produktif dan ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin solid. 

"Salah satu pendorong utama adalah pertumbuhan dana murah (CASA) yang meningkat 28,9% secara tahunan," kata dia dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Kinerja CASA tersebut didorong oleh lonjakan dana giro sebesar 43,8% dan pertumbuhan tabungan sebesar 11,2% (YoY). Kondisi ini membantu menekan biaya dana sekaligus menjaga likuiditas BNI tetap optimal.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena menambahkan, pengelolaan neraca sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan penguatan permodalan. 

Menurut Paolo, strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BNI tercatat sebesar 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto yang terjaga di level 1,9% dan Loan at Risk (LaR) sebesar 8,5%.

Paolo menyebutkan, kondisi tersebut menunjukkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan telah kembali ke level sebelum pandemi. 

Selain itu, rasio pencadangan NPL mencapai 205,5% dan pencadangan LaR sebesar 46,9%, mencerminkan kebijakan pencadangan yang kuat dan pruden untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan.

Dari sisi operasional, pada kuartal IV 2025 BNI membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. 

Secara kumulatif, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tercatat Rp40,3 triliun, meski loan yield tertekan seiring penurunan suku bunga acuan. Sedangkan pendapatan nonbunga tumbuh 5,2% secara tahunan menjadi Rp24,6 triliun.

Topik:

bni pertumbuhan-kredit kredit-bni