Pascabanjir Bandang, Status Tanggap Darurat Diberlakukan di Kepulauan Sitaro
Jakarta, MI - Banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, menyebabkan kerusakan parah serta korban jiwa. Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ratusan bangunan dilaporkan terendam air, termasuk sekolah. Mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, warga di kawasan terdampak terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sementara itu, bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara. Untuk mempercepat penanganan darurat, proses pendataan dampak, serta evakuasi korban, tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) diterjunkan ke lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, personel Basarnas Manado membawa berbagai peralatan pencarian dan pertolongan guna mendukung operasi penyelamatan korban banjir bandang di wilayah tersebut, Selasa (6/1/2026).
Banjir bandang di Sitaro menewaskan 16 orang, sementara 3 korban masih dinyatakan hilang. Selain itu, ratusan warga terpaksa mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa status tanggap darurat bencana telah diberlakukan di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan di Jakarta, Rabu (7/1/2026), bahwa pemerintah daerah setempat menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang berlaku aktif selama 14 hari, terhitung mulai 5 - 18 Januari 2026.
Penetapan status tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro Nomor 1/2026 dan menjadi dasar percepatan penanganan darurat di wilayah terdampak.
Abdul Muhari menyampaikan, hingga saat ini kondisi di lapangan masih dalam penanganan intensif, dengan prioritas pada pencarian korban hilang serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana.
Pusat Pengendalian Operasi BNPB mengkonfirmasi setidaknya hingga Selasa pukul 14.00 WIB ada 16 orang meninggal dunia, 3 orang dilaporkan masih hilang, dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan akibat banjir bandang yang terjadi pada Senin dini hari itu.
BNPB mencatat banjir bandang dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak dini hari. Curah hujan ekstrem menyebabkan sungai meluap secara mendadak sekitar pukul 02.30 WITA, sehingga berdampak pada empat kecamatan, yakni Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
Menurut Abdul, ratusan warga dari wilayah terdampak terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman dalam pendampingan tim petugas gabungan. Data sementara mencatat sekitar 682 jiwa mengungsi, sementara lima korban meninggal telah teridentifikasi dan identitas korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Di sisi lain, sedikitnya 22 warga dilaporkan menjalani perawatan di puskesmas setempat. Sementara 2 orang lainnya dirujuk ke rumah sakit di Kota Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan akibat luka yang dialami.
Selain itu, tujuh rumah warga dilaporkan hanyut, sementara lebih dari 120 rumah lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat. Banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan pada akses jalan, serta merusak sejumlah bangunan dan infrastruktur di wilayah terdampak.
Topik:
bnpb banjir-bandang kepulauan-sitaro sulawesi-utara garut status-tanggap-daruratBerita Sebelumnya
Dewan Pers Koreksi Pemberitaan Tudingan terhadap Kepsek SMAN 5 Bekasi
Berita Selanjutnya
Pembalakan Liar di Ngawi, Dua Pelaku Ditangkap dan Ratusan Kayu Jati Disita
Berita Terkait
Demi Siaga Bencana, BNPB Tarik Utang Rp949 Miliar untuk Alat Deteksi
4 Februari 2026 07:32 WIB
20 Korban Longsor Cisarua Teridentifikasi, Jenazah Diserahkan ke Keluarga
27 Januari 2026 13:50 WIB
BNPB Sebut Lebih dari 1.600 Warga Jakarta Mengungsi Akibat Banjir
25 Januari 2026 17:50 WIB
Bencana Longsor Cisarua, Bupati Bandung Barat Tetapkan Status Tanggap Darurat
25 Januari 2026 08:25 WIB