Putra Diktator Libya Muammar Qaddafi Tewas Ditembak Pria Bertopeng
Jakarta, MI - Putra mendiang diktator Libya Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, dilaporkan tewas ditembak di kediamannya oleh sekelompok pria bersenjata. Peristiwa tragis ini terjadi di kota Zintan, wilayah barat laut Libya, pada Selasa (3/2/2026) waktu setempat, menurut laporan media lokal dan sumber keluarga.
Tim politik Saif al-Islam menyebut, empat pria bertopeng menyerbu rumahnya dan mengeksekusinya dalam sebuah aksi yang disebut pengecut dan khianat. Pernyataan ini dilaporkan oleh Independent News.
Pengacara Saif al-Islam, Khaled al-Zaydi, membenarkan kabar kematian kliennya melalui unggahan di Facebook, meski tidak menjelaskan secara rinci kronologi peristiwa.
Sumber lain menyebut, Saif sempat terlibat bentrokan dengan para penyerang yang sebelumnya mematikan kamera CCTV di rumah tersebut untuk menghilangkan jejak kejahatan.
Sepupu Saif al-Islam, Hamid Kadhafi, mengungkapkan bahwa korban telah gugur sebagai martir. Ia menambahkan, alamat kompleks tempat tinggal Saif al-Islam seharusnya dirahasiakan.
Kota Zintan, lokasi peristiwa, berada sekitar 136 kilometer barat daya Tripoli, ibu kota Libya.
Saif al-Islam dikenal sebagai putra paling berpengaruh dari Muammar Gaddafi dan sempat dipandang sebagai pewaris kekuasaan sebelum rezim ayahnya tumbang dalam pemberontakan Oktober 2011.
Lahir di Tripoli pada Juni 1972, ia merupakan putra kedua Gaddafi dari istrinya, Safia Farkash, serta menjadi bagian penting dari lingkaran dalam kekuasaan sang ayah.
Setelah rezim Gaddafi runtuh, Saif al-Islam ditangkap oleh kelompok anti-Gaddafi pada November 2011 dan dipenjara oleh milisi di Zintan selama hampir enam tahun sebelum dibebaskan pada 2017.
Pada 2015, ia sempat divonis mati secara in absentia dan menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hingga kini, Libya masih menghadapi konflik politik berkepanjangan pascarezim Gaddafi, dengan berbagai faksi bersenjata dan pemerintahan tandingan yang saling berebut pengaruh, sementara upaya pemilu dan rekonsiliasi nasional terus menemui jalan buntu.
Topik:
muammar-qaddafi libya