Bocah SD di Ngada NTT Bunuh Diri, Tiga Menteri Buka Suara
Jakarta, MI - Pemerintah buka suara terkait tragedi memilukan yang menimpa seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah tersebut ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026) lalu, diduga karena tekanan ekonomi yang dialaminya.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menyebut peristiwa ini sebagai peringatan keras bagi semua pihak.
Ia menyoroti fakta bahwa Anak SD tersebut bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.
"Ya, ini harus menjadi cambuk ya," ujar Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Selain itu, ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak agar membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun. "Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana," kata Cak Imin.
Senada, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut tragedi ini harus menjadi atensi bersama. Ia menyampaikan rasa duka dan keprihatinan atas peristiwa itu.
"Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka, ya. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama," ucap Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia menegaskan, Kemensos bersama pemerintah daerah setempat akan meningkatkan pendampingan.
Di sisi lain, Gus Ipul menyoroti pentingnya penguatan data untuk memastikan jangkauan kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan," tuturnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. "Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswa SD ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026) lalu. Lokasi kejadian tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara, petugas kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.
Berdasarkan foto yang beredar, surat tersebut ditulis menggunakan bahasa Ngada.
Dalam isi surat itu, korban meminta sang ibu untuk mengikhlaskan kepergiannya lebih dahulu. Ia juga menuliskan pesan agar ibunya tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.
Di bagian akhir surat, terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.
Hasil pemeriksaan kepolisian mengungkap, sebelum peristiwa itu terjadi, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena. Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi sang ibu karena tidak memiliki uang yang cukup.
Ibunda korban berinisial MGT (47) menuturkan, pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.
Ia juga mengaku sempat menyampaikan pesan terakhir kepada sang anak agar tetap rajin bersekolah.
Berdasarkan keterangan kepada polisi, kondisi ekonomi keluarga korban diakui serba terbatas, dengan berbagai kebutuhan yang sulit dipenuhi.
Topik:
siswa-sd-bunuh-diri ngada nttBerita Sebelumnya
Prabowo Tetapkan Cuti Bersama ASN 2026 Sebanyak 8 Hari
Berita Terkait
Tragedi Bocah NTT, Pakar Psikologi Forensik: Ini Bukan Soal Alat Tulis, Ini Alarm Besar Bangsa
14 jam yang lalu
Siswa SD di NTT Tewas Diduga Karena Buku Sekolah, DPR Desak Investigasi Menyeluruh
3 Februari 2026 14:03 WIB
Menteri Mukhtarudin dan Pemkab Belu NTT Teken MoU untuk Perkuat Perlindungan Pekerja Migran
12 Desember 2025 13:09 WIB