Tragedi Bocah NTT, Pakar Psikologi Forensik: Ini Bukan Soal Alat Tulis, Ini Alarm Besar Bangsa
Jakarta, MI - Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menegaskan bahwa tragedi bunuh diri seorang murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan ketidakmampuan membeli alat tulis. Menurutnya, peristiwa memilukan ini adalah alarm keras atas akumulasi penderitaan sosial yang selama ini diabaikan negara.
“Saya sudah menulis soal bunuh diri anak-anak sejak 23 tahun lalu. Anak-anak yang tak mampu beli alat tulis itu fenomena biasa. Yang lebih parah, banyak yang bahkan tak bisa sekolah. Lebih parah lagi, banyak yang tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri,” ujar Reza, Kamis (5/2/2026).
Karena itu, Reza menilai kegaduhan publik seharusnya tidak berhenti pada isu permukaan. Akar persoalannya jauh lebih dalam, menyentuh wilayah afeksi dan kognisi anak yang terhimpit kemiskinan struktural, rasa bersalah, dan keputusasaan.
“Kalau mau buka hati, bukan alat tulis yang bikin geger. Ini soal penderitaan yang menumpuk dan tak pernah benar-benar kita lihat,” tegasnya.
Reza juga menyebut tragedi ini kontras dengan klaim Presiden yang kerap menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Menurutnya, kesedihan tidak bisa dilihat secara biner—bahagia atau tidak—melainkan sebagai spektrum panjang.
“Pada titik paling ekstrem dari kesedihan, terjadilah keputusasaan. Dan pada sebagian orang, keputusasaan itu ‘diobati’ dengan mengakhiri hidup,” jelasnya.
Ia menilai, masyarakat dan negara selama ini justru mati rasa terhadap penderitaan pada level di bawah tragedi ekstrem. Publik baru tersentak ketika kesengsaraan sudah mencapai titik fatal.
Reza memaparkan dua kemungkinan besar dalam membaca peristiwa bunuh diri anak tersebut. Pertama, bunuh diri sebagai ujung dari penderitaan kronis yang terus bereskalasi. Dalam konteks ini, kematian seharusnya bisa dicegah bila lingkungan cukup peka membaca perubahan perilaku anak.
Jika kesimpulan ini benar, Reza mengingatkan risikonya sangat luas. Anak-anak yang tak sekolah, kelaparan berkepanjangan, atau hidup dengan penyakit tanpa penanganan memadai, semuanya berpotensi bergerak menuju keputusan ekstrem serupa.
Kedua, bunuh diri bisa muncul sebagai depresi reaktif—keputusan yang muncul tiba-tiba akibat keterbatasan wawasan dalam menemukan solusi. Masalahnya mungkin tampak sederhana, tetapi karena minimnya pilihan dalam benak anak, keputusan fatal diambil. Dalam hal ini, akar masalahnya berada pada kognisi.
Apa pun simpulannya, Reza menekankan satu hal yang paling memilukan: warna altruistis dalam kematian bocah tersebut.
“Dia mengakhiri hidupnya untuk mengurangi beban orang yang ia sayangi,” ucap Reza lirih.
Ia bahkan mengaitkan tragedi ini dengan lirik Iwan Fals tentang anak kecil yang dipaksa berkelahi dengan waktu, memikul beban yang tak semestinya.
Sementara itu, Gubernur NTT Melki Laka Lena mengungkapkan bahwa keluarga korban belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial pemerintah. Penyebabnya adalah persoalan administrasi kependudukan yang tidak tertata setelah keluarga berpindah domisili.
“Saya telusuri, ternyata data kependudukannya tidak tertopang. Keluarga ini pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, tetapi administrasinya belum diamankan,” kata Melki saat dihubungi Monitorindonesia.com dari Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurut Melki, persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat karena hanya berkaitan dengan kelengkapan dokumen.
“Ini hanya soal selembar kertas. Harusnya segera dibereskan. Hal-hal seperti ini tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.
Meski demikian, Melki menolak mencari kambing hitam. Ia justru menekankan pentingnya pembenahan dan validasi data kependudukan agar tragedi serupa tidak terulang.
Sebagai langkah lanjutan, Melki menginstruksikan seluruh kepala daerah di NTT untuk melakukan pendataan ulang keluarga miskin penerima bantuan sosial, tidak hanya di Kabupaten Ngada.
“Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Semua kepala daerah harus memastikan data warga miskin yang berhak menerima bantuan benar-benar akurat,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan bantuan lanjutan bagi keluarga korban, termasuk rencana pembangunan rumah layak huni dan dukungan material lainnya.
Diketahui sebelumnya, korban tinggal bersama sang nenek. Ibunya, seorang orang tua tunggal, bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk menghidupi lima anak. Korban meninggalkan sepucuk surat perpisahan untuk ibunya—sebuah pesan sunyi yang kini berubah menjadi tudingan keras terhadap nurani bangsa.
Topik:
Bunuh Diri Anak NTT Reza Indragiri Amriel Kemiskinan Bansos Data Kependudukan Psikologi Forensik Tragedi SosialBerita Sebelumnya
Keluarga Bocah SD di Ngada Tak Terdata Bansos, Gubernur NTT Soroti Masalah Administrasi
Berita Selanjutnya
Sarjana Tergeser, Lulusan SD Lebih Mendominasi Dunia Kerja
Berita Terkait
Keluarga Bocah SD di Ngada Tak Terdata Bansos, Gubernur NTT Soroti Masalah Administrasi
1 jam yang lalu
Siswa SD di NTT Tewas Diduga Karena Buku Sekolah, DPR Desak Investigasi Menyeluruh
3 Februari 2026 14:03 WIB