Petani Terdampak Bencana Sumatera akan Digaji Pemerintah

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 17 Januari 2026 16:50 WIB
Pemerintah Bakal Gaji Petani Terdampak Bencana Sumatera (Foto: Ist)
Pemerintah Bakal Gaji Petani Terdampak Bencana Sumatera (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa rehabilitasi sektor pertanian pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akan dilakukan dengan pendekatan padat karya. 

Mentan menjelaskan, sawah-sawah yang mengalami kerusakan akan diperbaiki kembali dengan melibatkan langsung para pemilik lahan. Dengan demikian, petani tidak hanya memulihkan lahan pertanian mereka, tetapi juga memperoleh penghasilan selama proses rehabilitasi berlangsung.

"Sawah yang rusak itu diperbaiki sendiri oleh pemiliknya, tetapi biayanya ditanggung oleh pemerintah pusat. Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden," ujar Amran dalam keterangan resminya Sabtu (17/1/2026).

Ia mengatakan, skema padat karya dirancang agar seluruh pemilik sawah terlibat langsung dalam proses rehabilitasi. Para petani bekerja di lahan milik sendiri sekaligus memperoleh upah harian yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Pendapatan hariannya cukup untuk harian, bekerja di sawahnya sendiri. Sementara pengolahan tanah, benih, dan irigasi ditanggung pemerintah pusat," ucapnya.

Berdasarkan data Kementan, luas lahan pertanian yang terdampak bencana di tiga provinsi mencapai sekitar 98 ribu hektare, dengan Aceh sekitar 32 ribu hektare. Secara khusus ia menyebutkan di Aceh terdapat sekitar 10.000 hektare lahan sawah yang direhabilitasi dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 200.000 hari orang kerja (HOK) yang dibayar secara harian.

Lebih lanjut, untuk percepatan pemulihan, pemerintah menargetkan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan maksimal dalam waktu tiga bulan.

"Khusus Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai," kata Amran.

Selain mengandalkan petani, Kementan juga memanfaatkan teknologi dalam rehabilitasi. Pengolahan tanah akan dibantu dengan penggunaan traktor, perbaikan jaringan irigasi dilakukan secara intensif, sementara lahan yang tertimbun lumpur dalam akan ditangani dengan teknologi drone.

"Semua yang punya lahan kita libatkan. Kami tidak ingin kontraktor besar masuk, tetapi padat karya, sehingga mereka berpendapatan," pungkas Amran.

Topik:

kementerian-pertanian petani bencana-sumatra aceh