Krakatau Steel Bangkit, Kantongi Laba US$402 Juta pada 2025

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 8 Februari 2026 7 jam yang lalu
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS)  (Foto: Dok MI)
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menyatakan keyakinannya mampu mengembalikan kinerja gemilang pada 2026, seiring pencapaian laba bersih tahun 2025 yang mencapai US$402 juta. Optimisme ini disampaikan Direktur Utama KRAS, Muhamad Akbar, saat Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Akbar menjelaskan, perseroan pernah meraih laba setelah restrukturisasi pada tahun 2019, Namun, kinerja KRAS kembali tertekan setelah insiden kebakaran pabrik Hot strip Mill (HSM) 1 di tahun 2023.

“Kami luruskan bahwa KRAS ini bukan tidak pernah tidak untung. KRAS memulai restrukturisasi tahun 2019 dengan melakukan master restructuring agreement (MRA) dan tahun 2021 mencetak laba US$44 juta dan laba tahun 2022 sebesar US$23 juta,” ujarnya.

Ia mengatakan kerugian yang dialami KRAS setelah kebakaran pabrik HSM 1 pada 2023, karena perbaikannya tertunda dua tahun dari jadwal semula selama 6 bulan.

Akbar menuturkan, pada 28 Desember 2024 KRAS akhirnya kembali memproduksi gulungan baja perdana (first coil) dari pabrik HSM 1, sehingga di tahun 2025, KRAS mencatatkan laba (unaudited report) sebesar US$402 juta.

Menanggapi pertanyaan masyarakat terkait alasan KRAS belum mencetak keuntungan yang besar, Akbar menegaskan bahwa masalah tersebut harus dilihat dari sudut pandang yang menyeluruh (helicopter view).

“China negara yang unstoppable untuk tidak bisa disaingi karena karena produksi bajanya mencapai 1,6 miliar ton per tahun, sementara produksi nasional kita 18 juta ton per tahun, di mana utilisasi hanya kurang 60% sehingga ini tidak setara membandingkan baja nasional tidak bisa bersaing dengan baja murah asing,” jelasnya.

Ia mengatakan, pemulihan KRAS ditempuh melalui transformasi menyeluruh, terutama dari aspek pembenahan internal perusahaan. 

Secara eksternal, dukungan lewat regulasi, terutama trade remedies, Biaya Masuk Anti Dumping (BMAD), diharapkan untuk  terus berpihak ke industri baja nasional.

“KRAS tidak stand alone, tapi sebagai payung besar dari industri baja nasional. Pada saat sekarat, tentu industri nasional di sektor hilir akan lebih sekarat lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, saham KRAS dalam sepekan terakhir telah naik 9,21% atau Rp28 per saham.

Topik:

pt-krakatau-steel-persero-tbk kras laba-kras