BPS: Inflasi Tahunan 2026 Tinggi karena Diskon Listrik Tahun Lalu

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 2 Februari 2026 14:59 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono (Foto: Repro)
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono (Foto: Repro)

Jakarta, MI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 mencapai 3,55%. Namun, jika dilihat secara bulanan, perekonomian justru mengalami deflasi sebesar 0,15%. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan perbedaan tersebut disebabkan oleh low base effect yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia mengungkapkan, pada Januari dan Februari 2025 pemerintah memberlakukan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan ini menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) di awal 2025 hingga memicu deflasi selama dua bulan berturut-turut.

"Kita ketahui bahwa inflasi yang tinggi di Januari 2026 secara year on year ini dipengaruhi oleh adanya low base effect. Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang tentunya ini akan menekan IHK Januari dan Februari 2025," tutur Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Ateng menjelaskan, penurunan IHK akibat diskon tarif listrik membuat level harga pada Januari 2025 berada di bawah tren normal. Kondisi ini kemudian berdampak pada perhitungan inflasi tahunan di 2026.

"Penurunan IHK menyebabkan level harga pada Januari 2025 berada pada pola di bawah tren normalnya. Dengan demikian ketika penghitungan inflasi year on year dilakukan pada periode yang sama di 2026, basis pembandingnya relatif rendah, akibatnya tingkat inflasi tampak tinggi," ujarnya.

Ateng menambahkan, tingginya inflasi tahunan terutama disumbang oleh kelompok tarif listrik. Hal ini terjadi karena pada 2025 harga listrik tertekan oleh kebijakan diskon, sementara pada 2026 tarif kembali ke kondisi normal.

"Tadi kan pembanding di 2025 akibat adanya diskon tarif listrik kan rendah, jadi ini yang mendorong inflasi tinggi pada kelompok terutama di listrik," katanya.  

Meski demikian, Ateng menegaskan bahwa secara umum pergerakan harga saat ini sudah kembali ke kondisi wajar. Ia memperkirakan, inflasi tahunan pada Januari dan Februari 2026 masih akan dipengaruhi oleh efek basis rendah tersebut.

"Sekali lagi terjadinya inflasi year on year di Januari dan Februari nanti ini terjadi karena adanya low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik yang diimplementasikan pada Januari dan Februari 2025," tuturnya.

Topik:

inflasi diskon-listrik bps