Right Issue INET Diserbu Investor, Kelebihan Permintaan Capai 52 Kali
Jakarta, MI - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD) atau right issue perseroan senilai Rp3,2 triliun berhasil mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed).
Direktur Utama INET, Muhammad Arif menyampaikan, bahwa sebanyak 99,3% pemegang HMETD telah mengeksekusi haknya dalam right issue tersebut. Sedangkan sisa HMETD yang tidak dilaksanakan sebesar 0,7% justru diserap melalui pemesanan tambahan (additional subscription).
"Permintaan pada tahap ini sangat tinggi, dengan dana yang masuk mencapai 52 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia," kata dia dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Kondisi ini membuat right issue INET secara keseluruhan mengalami oversubscribed dan mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap strategi jangka panjang perseroan, khususnya dalam pengembangan infrastruktur digital yang terjangkau di Indonesia.
Dalam right issue ini, INET menerbitkan sebanyak 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham, sehingga total dana yang dihimpun mencapai Rp3,2 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi jaringan serta memperkuat modal kerja INET dan entitas anaknya.
Dia menyebutkan, pendanaan right issue ini ditujukan untuk mendukung target pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Berdasarkan prospektus, sekitar Rp2,94 triliun dari dana hasil right issue akan disalurkan sebagai setoran modal kepada anak usaha baru, PT Garuda Prima Internetindo (GPI).
Dana tersebut akan digunakan GPI untuk mengembangkan jaringan Fiber to the Home (FTTH) berbasis teknologi WiFi 7 yang ditargetkan menjangkau hingga 2 juta pelanggan di wilayah Bali dan Lombok, sekaligus memperkuat modal kerja perusahaan.
Selain itu, sebesar Rp215,38 miliar akan dialokasikan kepada anak usaha lainnya, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT Jejaring Mitra Persada (JMP).
"Adapun sisa dana akan dimanfaatkan sebagai modal kerja INET," pungkas Muhammad Arif.
Topik:
right-issue-inet inet right-issue