Katanya, Negara Paling Bahagia?!

La Aswan
La Aswan
Diperbarui 16 Januari 2026 00:03 WIB
Katanya, Negara Paling Bahagia?!
Karikatur - Ilustrasi - Katanya, Negara Paling Bahagia?! (Dok MI)

KARIKATUR ini menyodorkan kritik sinis terhadap cara negara dan lembaga internasional memproduksi narasi kebahagiaan yang jauh dari kenyataan hidup rakyatnya. Judul “Katanya, Negara Paling Bahagia?!” bukan pertanyaan polos, melainkan ejekan terbuka terhadap klaim resmi yang kerap dipamerkan ke publik.

Di podium tertinggi, Zimbabwe disebut sebagai negara “paling bahagia”, tetapi yang ditampilkan justru tubuh kurus tinggal tulang, duduk kaku dengan ekspresi nyaris mati rasa. Ini sindiran telak: ketika penderitaan ekstrem bisa tetap diberi label bahagia, maka definisi kebahagiaan itu sendiri patut dicurigai.

Indonesia di posisi kedua digambarkan dengan rakyat compang-camping, memikul beban berat di punggungnya. Simbol ini menohok langsung realitas sosial: kemiskinan struktural, beban hidup yang menindih, dan ketimpangan, namun tetap disulap menjadi prestasi statistik. Karikatur ini seakan berkata, rakyat dipaksa “bahagia” demi menjaga citra negara, meski hidup mereka jauh dari sejahtera.

El Salvador di posisi ketiga tampil tak kalah menyedihkan—kurus, lusuh, dan kebingungan. Ekspresinya menyiratkan absurditas: bagaimana mungkin kondisi hidup seperti ini masuk podium kebahagiaan?

Keseluruhan Karikatur ini menguliti kebohongan narasi pembangunan. Kebahagiaan dijadikan angka, peringkat, dan bahan propaganda, sementara realitas rakyat kecil—lapar, miskin, tertekan—dikesampingkan. Kritik utamanya tajam: yang dinilai bahagia bukan manusia yang hidup di dalam negara, melainkan laporan yang menyenangkan penguasa dan lembaga internasional. (gec/wan)

Karikatur Sebelumnya

HAUS

Karikatur Selanjutnya

Politik Kepentingan Kelompok