Harga Smartphone Bakal Lebih Mahal di 2026, Ini Biang Keroknya
Jakarta, MI - Harga smartphone diperkirakan akan mengalami kenaikan pada tahun depan seiring melonjaknya harga chip memori di pasar global.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkapkan bahwa kenaikan harga chip memori menjadi faktor utama yang mendorong biaya produksi smartphone ke level yang lebih tinggi dibandingkan tahun ini. Menurut dia, produsen ponsel tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan strategi harga di tengah lonjakan biaya komponen.
Lu memperkirakan konsumen akan menghadapi kenaikan harga ritel smartphone dalam skala yang cukup signifikan. Namun, ia menegaskan bahwa menaikkan harga jual bukanlah solusi tunggal untuk meredam tekanan tersebut.
“Tetapi penyesuaian harga saja tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tekanan tersebut,” ujar Lu Weibing, dikutip dari laman GizChina, Senin (15/12/2025).
Kenaikan harga memori erat kaitannya dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Lonjakan permintaan membuat produsen chip memori lebih memprioritaskan pasokan ke sektor pusat data yang dinilai dinilai lebih menguntungkan dibandingkan kebutuhan untuk smartphone.
Dampaknya, ketersediaan memori untuk ponsel menjadi semakin terbatas sehingga harganya ikut melonjak. Kondisi ini diperkirakan berdampak pada seluruh segmen pasar, mulai dari ponsel kelas entry-level hingga flagship.
Di tengah peran memori yang semakin vital dalam perangkat modern, khususnya untuk mendukung fitur berbasis AI, biaya produksi smartphone pun terus terdorong naik.
Dengan tren tersebut, kenaikan harga smartphone diperkirakan tidak akan berhenti atau melambat dalam waktu dekat, bahkan hingga 2026. Era ponsel dengan harga relatif murah di sejumlah segmen dinilai mulai berakhir, seiring industri teknologi yang semakin memprioritaskan pengembangan dan kebutuhan AI dibandingkan tren lainnya.
Sepanjang tahun ini, sebagian besar ponsel Android masih berhasil dipasarkan tanpa kenaikan harga, meskipun tekanan inflasi dan tarif impor meningkat. Namun, kondisi tersebut dicapai melalui berbagai penyesuaian dan strategi efisiensi untuk menyerap kenaikan biaya komponen.
Mengacu pada laporan Android Police, strategi tersebut dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang, sehingga pada 2026 produsen hampir pasti akan menaikkan harga jual.
Lonjakan harga terutama dipicu meningkatnya kebutuhan komponen memori seiring pesatnya pertumbuhan industri kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi global berlomba-lomba membangun pusat data untuk kebutuhan pelatihan dan pemrosesan AI, yang menyedot pasokan DRAM dan NAND dalam jumlah besar.
Sejumlah raksasa teknologi dunia, seperti Google, Meta, Amazon, Nvidia, hingga OpenAI menjadi konsumen utama memori untuk pusat data mereka.
Ketika pemain besar membeli chip memori dalam skala puluhan juta unit, segmen perangkat konsumen seperti smartphone menjadi prioritas kedua. Produsen memori utama, seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, pun mengalihkan fokus ke pasar server AI yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen menyusut dan harga komponen melambung. Dampak ini menjalar ke berbagai produk elektronik, mulai dari PC, tablet, ponsel pintar, hingga televisi. Harga DRAM bahkan dilaporkan melonjak hingga 70%-80%, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 170%.
Padahal, chip memori dan penyimpanan menyumbang sekitar 10%–15% dari total biaya produksi sebuah ponsel. Ketika harga komponen tersebut naik berlipat dalam waktu singkat, margin produsen pun tertekan.
Dalam kondisi tersebut, produsen hanya memiliki dua opsi: memangkas spesifikasi di sektor lain atau menaikkan harga. Namun, dengan persaingan yang ketat, pengurangan kualitas baterai, layar, atau kecepatan pengisian daya bukan solusi ideal dan hanya efektif dalam jangka terbatas. Strategi inilah yang banyak diterapkan sepanjang tahun ini, tetapi lonjakan harga memori kini dinilai terlalu tinggi untuk terus diserap tanpa menaikkan harga jual.
Tekanan biaya juga meningkat seiring melonjaknya kebutuhan RAM akibat adopsi fitur berbasis kecerdasan buatan di perangkat. Model AI yang berjalan langsung di ponsel membutuhkan memori besar dan penyimpanan berkecepatan tinggi. Kapasitas RAM yang sebelumnya dianggap cukup kini dinilai tidak lagi memadai, terutama untuk ponsel flagship yang menawarkan dukungan pembaruan sistem operasi hingga tujuh tahun.
Agar perangkat tetap relevan dalam jangka panjang, produsen mau tak mau harus membekali ponsel dengan kapasitas RAM yang lebih besar, yang berujung pada meningkatnya biaya produksi.
Selain memori, harga prosesor aplikasi (application processor/AP) juga mengalami kenaikan. Chip flagship terbaru untuk ponsel Android dilaporkan dijual dengan harga lebih tinggi, sehingga semakin menambah beban biaya bagi produsen. Kenaikan ini pada akhirnya akan tercermin pada harga perangkat di pasaran.
Tekanan biaya ini tidak hanya membayangi industri smartphone. Segmen PC konsumen bahkan disebut menghadapi dampak yang lebih besar, dengan sejumlah produsen global mempertimbangkan penyesuaian harga hingga belasan persen.
Sementara itu, konsol gim, televisi, serta perangkat elektronik lain yang bergantung pada DRAM dan NAND juga diperkirakan akan ikut mengalami kenaikan harga pada tahun depan.
Topik:
smartphone handphone harga-ponsel harga-chip-memori