Cuaca Ekstrem Makin Menggila, BMKG Tegaskan Perubahan Iklim Nyata dan Ancam Indonesia
Jakarta, MI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang dampaknya semakin nyata dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. Intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem terus meningkat dan menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan masyarakat kerap mempertanyakan apakah iklim saat ini benar-benar berubah atau sebenarnya sama saja seperti sebelumnya. Namun, menurutnya, jawabannya bisa dilihat dari dampak ekstrem yang kini makin sering terjadi.
“Iklim kita apakah sudah berubah atau sama saja seperti sebelumnya? Kalau sama, lalu kenapa dampak ekstrem semakin hari semakin kita rasakan di berbagai wilayah Indonesia. Terakhir di Sumatera, lalu menyusul Bandung dan daerah-daerah lainnya,” ujar Andri.
Hal tersebut disampaikan Andri dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Cuaca Ekstrem, Sinergi dan Kolaborasi Atasi Bencana” yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Andri menjelaskan, perubahan iklim harus dibuktikan dengan indikator berbasis data. Salah satu indikator paling mudah diamati adalah suhu permukaan bumi.
“Berdasarkan laporan terkini tahun 2024, anomali suhu global sudah meningkat lebih dari plus 1,55 derajat Celcius dibandingkan periode praindustri. Artinya, kita sudah melampaui ambang batas aman 1,5 derajat. Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah,” jelasnya.
Ia menegaskan, data tersebut menjadi bukti kuat bahwa perubahan iklim secara global benar-benar terjadi. Kondisi global itu kemudian dianalisis dan diturunkan ke skala nasional melalui data BMKG yang sebagian rekamannya telah tersedia hampir 100 tahun.
“Data di BMKG memungkinkan kami melakukan analisis tren dan proyeksi ke depan, termasuk bagaimana dampaknya di Indonesia,” kata Andri.
Hasil analisis BMKG menunjukkan tren kenaikan suhu di Indonesia terus menguat. Grafik tren suhu sejak 1984 hingga 2024 memperlihatkan warna yang kian memerah, menandakan kondisi yang semakin panas.
“Tren kenaikan suhu ini nyata. Dampaknya adalah peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang menjadi pemicu bencana hidrometeorologi,” ujarnya.
Andri menjelaskan, bencana hidrometeorologi terbagi menjadi dua kategori, yakni basah dan kering. Hidrometeorologi basah meliputi banjir, banjir bandang, dan longsor, sementara hidrometeorologi kering mencakup kekeringan, kemarau panjang, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Semua ini kita rasakan langsung. Karena itu, perlu kewaspadaan dan langkah antisipasi yang serius,” tegasnya.
Ia menambahkan, Indonesia sejalan dengan tren global. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,52 derajat Celcius. Kondisi ini memperbesar potensi bencana.
Mengacu pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 2025 tercatat sekitar 2.590 kejadian bencana, dengan lebih dari 90 persen merupakan bencana hidrometeorologi.
“Bayangkan luasnya wilayah Indonesia, tetapi sebaran bencana terkonsentrasi di Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi. Secara historis, wilayah-wilayah ini memang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi,” ungkap Andri.
Ke depan, perubahan iklim diproyeksikan meningkatkan sejumlah risiko, mulai dari defisit air dan kebakaran hutan akibat kekeringan, hingga hujan ekstrem yang memicu banjir, banjir bandang, dan longsor.
“Periode ulang lima tahunan, 50 tahunan, bahkan 100 tahunan itu pasti terjadi. Apalagi jika tidak diiringi langkah mitigasi, baik di atmosfer maupun di darat, seperti pengelolaan drainase, daerah aliran sungai, kawasan konservasi, dan hutan,” katanya.
Andri juga menyinggung peran anomali iklim seperti El Nino dan La Nina yang memperparah kondisi. El Nino cenderung memicu kemarau lebih panjang dan kering, sementara La Nina meningkatkan curah hujan hingga 30–50 persen dan dapat menggeser musim hujan.
“Musim hujan bisa datang lebih cepat, lebih lambat, atau berakhir lebih lama. Semua anomali ini terus kami monitor,” ujarnya.
Menurut Andri, dampak cuaca ekstrem tidak hanya soal korban dan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak besar terhadap perekonomian nasional. Karena itu, BMKG mengarahkan strategi ke depan pada dua hal utama: mitigasi bencana dan pemanfaatan data cuaca serta iklim untuk mendukung pembangunan lintas sektor.
“BMKG tidak hanya bicara bencana. Data cuaca dan iklim sangat penting untuk sektor pertanian, ketahanan pangan, transportasi, hingga pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim,” katanya.
Ia mencontohkan bencana besar di Sumatera yang menjadi pengingat bahwa dampak hidrometeorologi bisa sangat masif, bahkan mendekati dampak tsunami dari sisi kerusakan.
Dalam konteks global, Andri mengingatkan adanya kampanye Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk Early Warning for All dengan prinsip No One Left Behind.
“Dunia ini tidak sedang baik-baik saja. Sistem peringatan dini harus bisa diterima dan direspons dengan baik agar menjadi langkah mitigasi yang efektif,” ujarnya.
Ia memaparkan empat pilar utama sistem peringatan dini, yakni pengetahuan risiko bencana berbasis kerentanan wilayah, deteksi dan pemantauan oleh BMKG, kesiapsiagaan dan kapasitas respon oleh lembaga terkait seperti BNPB dan Basarnas, serta penyebaran informasi peringatan dini yang inklusif dan tidak diskriminatif.
“Peringatan dini bisa menyelamatkan nyawa dan harta benda jika seluruh komponen dalam sistem ini bekerja bersama, saling melengkapi, dan saling menguatkan,” pungkas Andri.
Topik:
cuaca ekstrem perubahan iklim BMKG bencana hidrometeorologi pemanasan global banjir