Januari 2026 Alami Deflasi 0,15%, BI Optimistis Inflasi Tetap Terkendali

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 3 Februari 2026 9 jam yang lalu
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Dok MI)
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,15% secara bulanan atau month to month (mtm). 

Kondisi ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang masih terkendali serta deflasi pada kelompok harga bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan atau year on year (yoy) tercatat sebesar 3,55% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang berada di level 2,92% (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, inflasi pada 2026 dan 2027 diperkirakan akan menurun dan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. 

Optimisme ini didukung oleh konsistensi kebijakan moneter, sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Pusat maupun Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), dan penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional.

"Lalu berakhirnya dampak base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 yang dipengaruhi kebijakan diskon tarif listrik," ungkap dia dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).

Dia mengaku, inflasi inti tetap terkendali. Inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37% (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,20% (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas emas global, meskipun ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjaga.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 2,45% (yoy), naik tipis dari realisasi Desember 2025 yang sebesar 2,38% (yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor.

Lanjut dia menyatakan, kelompok volatile food mencatat deflasi sebesar 1,96% (mtm) pada Januari 2026, berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 2,74% (mtm). 

"Deflasi ini terutama disumbang oleh penurunan harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring dengan meningkatnya pasokan pada masa panen," ungkap dia.

Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat sebesar 1,14% (yoy), turun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,21% (yoy). 

Ke depan, inflasi kelompok ini diperkirakan tetap terkendali berkat penguatan sinergi antara BI, TPIP, dan TPID serta implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

Kemudian, di kelompok administered prices mengalami deflasi sebesar 0,32% (mtm) pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,37% (mtm). 

Deflasi bulanan ini terutama dipicu oleh penurunan harga bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota, seiring turunnya harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Namun secara tahunan, kelompok administered prices masih mencatat inflasi sebesar 9,71% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,93% (yoy).

Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh faktor base effect akibat penerapan kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari–Februari 2025.

"Dengan berbagai perkembangan tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna memastikan inflasi tetap terkendali dan mendukung pemulihan ekonomi nasional," pungkas dia.

Topik:

bank-indonesia deflasi-januari-2026 inflasi-tahunan bi