IHSG Mulai Bangkit di Tengah Sentimen Global Campuran, Fokus Pasar Tertuju ke Suku Bunga BI
Jakarta, MI - Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 3,49%. Kenaikan ini menjadi sinyal awal pemulihan pasar setelah tekanan sentimen terkait MSCI, meski risiko eksternal masih membayangi.
Kekhawatiran investor sebelumnya sempat meningkat setelah Moody's menurunkan outlook sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk empat bank nasional utama.
Di sisi lain, FTSE Russell memutuskan menunda perubahan komposisi indeks yang berkaitan dengan Indonesia.
Penundaan ini dilakukan karena FTSE masih menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan bursa dan akan meninjau ulang pada Mei mendatang. FTSE menegaskan, keputusan tersebut tidak terkait dengan klasifikasi negara seperti yang sebelumnya terjadi pada MSCI.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menilai meskipun sentimen pasar cenderung campuran, IHSG tetap mampu menguat. Kinerja ini terutama ditopang saham-saham grup konglomerasi seperti BUMI, RATU, dan BUVA.
Namun, di sisi lain, tekanan jual investor asing masih cukup besar, terutama pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatat arus keluar dana (outflow) sekitar Rp3,8 triliun dalam sepekan dan membuat sahamnya terkoreksi 6,19%.
"Secara keseluruhan, IHSG mencatat outflow sekitar Rp6,1 triliun, mencerminkan rotasi dan sikap selektif investor di tengah dinamika global dan domestik," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (17/2/2026).
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak volatil. Pergerakan S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite akan dipengaruhi rilis data ekonomi terbaru serta laporan kinerja emiten. Perhatian investor tertuju pada estimasi pertumbuhan GDP serta data belanja dan pendapatan konsumen yang mencerminkan daya tahan ekonomi AS.
Musim laporan keuangan kuartalan yang masih berlangsung juga berpotensi memicu rotasi sektoral. Kekhawatiran terhadap dampak negatif kecerdasan buatan (AI) dinilai masih bisa menjaga volatilitas Wall Street tetap tinggi, meski arah pergerakan pasar cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas.
"Di dalam negeri, pasar diproyeksikan bergerak dinamis dengan fokus utama pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada 19 Februari. Keputusan ini dipandang sebagai sentimen kunci, terutama terkait ekspektasi stabilisasi suku bunga dan sinyal arah kebijakan moneter ke depan yang akan memengaruhi risiko aset domestik," ungkap Hari.
Selain itu, data pertumbuhan kredit perbankan yang masih solid menunjukkan permintaan sektor riil terus membaik dan menjadi katalis positif bagi pasar.
Progres reformasi di pasar modal Indonesia, khususnya terkait peningkatan transparansi dan tata kelola, juga dinilai memberi harapan bagi investor jangka menengah hingga panjang, terutama untuk menarik kembali minat investor asing.
"Ke depan, investor disarankan mencermati rilis data inflasi domestik, perkembangan neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu lanjutan arah pergerakan IHSG," pungkas Hari.
Topik:
suku-bunga-bi ihsgBerita Sebelumnya
Mudik Lebaran 2026, Kemenhub Batasi Angkutan Barang 16 Selama Hari
Berita Terkait
Pasca Libur Imlek, IHSG akan Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan Laporan Keuangan Emiten 2025
56 menit yang lalu
Pasar Bergejolak, Investor Perlu Menata Kembali Strategi Investasi
15 Februari 2026 19:20 WIB