BTN Konsisten Terapkan ESG, Green Banking jadi Fondasi Bisnis

La Aswan
La Aswan
Diperbarui 23 Januari 2026 10:50 WIB
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan komitmennya mendukung transisi ke industri perbankan nasional yang berkelanjutan melalui penerapan prinsip green banking atau praktik perbankan yang ramah lingkungan. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam forum Metro TV Green Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026 (Foto: Dok MI/BTN)
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan komitmennya mendukung transisi ke industri perbankan nasional yang berkelanjutan melalui penerapan prinsip green banking atau praktik perbankan yang ramah lingkungan. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam forum Metro TV Green Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026 (Foto: Dok MI/BTN)

Jakarta, MI - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan perannya sebagai motor penggerak transisi menuju industri perbankan nasional yang berkelanjutan melalui konsistensi penerapan prinsip green banking. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam forum Metro TV Green Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Nixon mengungkapkan, BTN mencatatkan tonggak penting dengan menjadi bank pertama di Indonesia yang meraih ESG Rating AA dari MSCI pada 2025. Peringkat tersebut menegaskan posisi BTN sebagai pelopor dalam penerapan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environment, Social, and Governance/ESG) di sektor perbankan nasional.

“Sejak awal, BTN mengambil sikap tegas untuk tidak membiayai sektor-sektor yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Kami tidak memiliki portofolio pembiayaan di batu bara maupun sawit. Artinya, BTN tidak terlibat dalam aktivitas ekstraksi bumi,” kata Nixon.

Ia menjelaskan, struktur portofolio BTN justru didominasi pembiayaan sektor perumahan dan konstruksi yang mencapai sekitar 90%. Mayoritas kredit tersebut disalurkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga BTN memiliki kontribusi signifikan pada dimensi sosial dalam kerangka ESG.

“Sekitar 10% pembiayaan di luar perumahan pun masih berkaitan erat dengan ekosistem hunian, seperti distribusi air bersih. Kami juga terlibat dalam sindikasi kredit untuk PLN, namun hanya pada sisi distribusi, bukan pembangkit. Fokus BTN jelas, dan itu yang membedakan kami,” ujar Nixon.

BTN 1

Komitmen BTN terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui integrasi prinsip circular economy dalam bisnis pembiayaan. Salah satunya lewat program Rumah Rendah Emisi yang ditargetkan mencapai 150 ribu unit hingga 2029. Dalam skema ini, BTN memberikan pembiayaan berbunga rendah kepada pengembang yang membangun rumah ramah lingkungan dengan memanfaatkan material hasil daur ulang.

“Material seperti bata, genteng, hingga paving block berasal dari sampah plastik yang sulit terurai. Menariknya, kualitasnya justru lebih kuat. Kami juga mendorong desain rumah yang hemat energi, pencahayaan alami optimal, serta penggunaan panel surya di kawasan perumahan,” jelasnya.

Inovasi keberlanjutan BTN juga merambah sisi konsumen melalui program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”. Program ini memungkinkan debitur KPR BTN mengonversi sampah rumah tangga menjadi nilai ekonomi yang langsung mengurangi cicilan bulanan.

“Dengan skema ini, angsuran KPR bisa berkurang hingga 10–15% per bulan. Ini bukan sekadar insentif finansial, tapi juga cara baru membangun kesadaran bahwa sampah memiliki nilai ekonomi sekaligus berkontribusi menekan emisi karbon,” tutur Nixon.

Di sisi internal, BTN turut menerapkan prinsip ESG dalam kegiatan operasional sehari-hari, mulai dari digitalisasi untuk mengurangi penggunaan kertas, pemanfaatan kendaraan listrik sebagai armada operasional, hingga pemasangan panel surya di sejumlah kantor. Aspek sosial juga menjadi perhatian melalui komposisi karyawan yang seimbang antara pria dan perempuan serta pemberdayaan tenaga kerja penyandang disabilitas.

Nixon menilai, urgensi penerapan perbankan berkelanjutan semakin nyata seiring meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang baru-baru ini menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar.

Menurutnya, industri perbankan tidak seharusnya menunggu regulasi untuk bergerak. Praktik green banking dapat dijalankan secara proaktif tanpa mengorbankan pertumbuhan bisnis.

“Faktanya, kredit BTN tetap tumbuh. Jadi kekhawatiran kehilangan bisnis itu tidak terbukti. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan keberanian untuk memulai. Diatur atau tidak, banyak hal yang bisa dilakukan sekarang,” pungkas Nixon.

Topik:

BTN green banking perbankan berkelanjutan ESG perumahan rakyat ekonomi sirkular keuangan hijau lingkungan perbankan nasional