Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, BI Nilai Sudah Terlalu Murah

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 19 Februari 2026 3 jam yang lalu
Gubernur BI, Perry Warjiyo. (Foto: Dok Istimewa)
Gubernur BI, Perry Warjiyo. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah yang hampir menembus Rp17.000 per dolar AS saat ini sudah berada pada level terlalu rendah (undervalued) jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Pada Rabu, 18 Februari 2026, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp16.880 per dolar AS, melemah 0,56 persen dibandingkan posisi akhir Januari 2026.

“BI memandang nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamental ekonomi Indonesia. Padahal, kondisi ekonomi domestik tetap terjaga, termasuk inflasi yang terkendali sesuai sasaran 2,5 persen ±1 persen pada 2026-2027,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Untuk menjaga stabilitas, Perry menjelaskan BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun melalui transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik.

Ke depan, BI optimistis nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, seiring langkah-langkah stabilisasi yang konsisten serta dukungan fundamental ekonomi Indonesia. 

Hal ini tercermin dari imbal hasil aset keuangan yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus membaik.

Perry juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini lebih disebabkan oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh korporasi domestik seiring naiknya aktivitas ekonomi.

“Karena itu, BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah guna meredam dampak negatif ketidakpastian pasar keuangan global,” pungkas Perry.

Topik:

rupiah dolar-as bi nilai-tukar-rupiah