Tekanan Berlanjut, Harga Batu Bara Ambruk 4 Hari Beruntun

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 28 Januari 2026 09:16 WIB
Harga Batu Bara Melemah 4 Hari berturut-turut (Foto: Ist)
Harga Batu Bara Melemah 4 Hari berturut-turut (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Harga batu bara global masih berada dalam tekanan dan terus melemah selama empat hari terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (27/1/2026), harga batu bara ditutup di level US$109 per ton, turun 0,95%. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan dengan akumulasi koreksi mencapai 3,53% dalam empat hari beruntun.

Tekanan harga batu bara juga dipicu oleh melemahnya harga batu bara termal di pasar domestik China. Dalam sepekan terakhir, harga batu bara di negara tersebut bergerak turun, karena penjual baik produsen dan pedagang di pelabuhan menurunkan harga.

Pelemahan harga dipicu oleh kondisi fundamental pasar yang longgar, ditandai dengan kelebihan pasokan dan permintaan yang melemah.

Dari sisi supply, pasokan relatif stabil dan melimpah sehingga tidak ada tekanan pasokan yang bisa menopang harga. 

Sementara itu, permintaan lesu dari pembangkit listrik dan industri utama sebabkan penjualan turun dan persediaan tetap tinggi. Kondisi ini membuat pembeli enggan memborong pada harga saat ini.

Penurunan harga tersebut mencerminkan tekanan yang berkelanjutan di pasar batu bara domestik, bukan sekadar gejolak harga jangka pendek.

Produsen dan pedagang mencoba menyesuaikan harga untuk merespons melemahnya permintaan, namun tingginya persediaan tetap menjadi kendala utama.

Di sisi lain, harga batu bara kokas impor dari Mongolia ke China juga bergerak turun di beberapa titik perbatasan utama setelah permintaan dari industri baja melemah. Pelemahan sentimen ini membuat penawaran harga kehilangan kekuatan di pasar impor, seiring trader dan pembeli berhati-hati memasuki minggu perdagangan terakhir.

Selain itu, permintaan domestik China dari sektor baja lebih lemah dari ekspektasi, sehingga kebutuhan impor kokas berkurang.

Banyak pembeli di China cenderung tidak agresif melakukan pembelian, salah satunya karena pasar sedang melemah dan futures (kontrak berjangka) untuk batu bara kokas tidak begitu kuat. Situasi ini mencerminkan melambatnya aktivitas pembelian menjelang musim stok musim dingin berikutnya.

Topik:

batu-bara harga-batu-bara-turun