Badan Karantina Indonesia Siagakan Ribuan Personel, Pengawasan Pangan Diperketat Pada Ramadan dan Idulfitri

Rizal Siregar
Rizal Siregar
Diperbarui 25 Februari 2026 19:39 WIB
Badan Karantina Indonesia saat meneliti barang yang masuk (Dok. MI)
Badan Karantina Indonesia saat meneliti barang yang masuk (Dok. MI)

Jakarta, MI - Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyiagakan 3.930 personel dan memperketat pengawasan lalu lintas komoditas pangan asal pertanian dan perikanan selama periode Ramadan hingga Idulfitri, 19 Februari–22 Maret 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan frekuensi dan volume peredaran bahan pangan di berbagai jalur distribusi nasional.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Barantin, Hudiansyah Is Nursal, menegaskan bahwa penguatan pengawasan menjadi bagian dari komitmen menjaga keamanan pangan masyarakat selama bulan suci.

“Selama momen Ramadan, Barantin meningkatkan pengawasan lalu lintas komoditas pangan untuk memastikan keamanan dan mutu pangan yang dikonsumsi masyarakat saat menjalankan ibadah,” ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Pria yang akrab disapa Ian itu menjelaskan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, Barantin bertugas mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), serta Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Selain itu, pengawasan keamanan dan mutu pangan juga dilakukan secara rutin dengan intensitas lebih tinggi menjelang Idulfitri.

Menurut data Pusat Data dan Sistem Informasi Barantin, tren lalu lintas komoditas pangan selama Ramadan hingga Idulfitri cenderung meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas yang paling banyak dilalulintaskan antara lain beras, daging, ikan, telur, cabai, bawang, dan berbagai bahan pokok lainnya.

“Dengan meningkatnya pergerakan komoditas, Karantina terus siaga memberikan layanan kepada masyarakat sekaligus menjamin kesehatan dan keamanan pangan,” tambah Ian.

Berdasarkan data sertifikasi dalam sistem Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), volume bahan pokok selama Ramadan tahun lalu meningkat 69 persen atau mencapai 56,04 ratus ribu ton dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 33,21 ratus ribu ton. Peningkatan tertinggi terjadi pada komoditas ikan seperti tuna dan cakalang yang melonjak hingga 137 persen, diikuti beras 92 persen dan jagung 18 persen.

Layanan karantina saat ini tersebar di 38 provinsi melalui 161 satuan pelayanan yang beroperasi di bandara, pelabuhan, pos lintas batas negara, serta kantor pos. Operasional berlangsung 24 jam penuh, terutama di wilayah dengan lalu lintas komoditas tinggi seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Rawan Penyelundupan
Barantin juga mengantisipasi meningkatnya potensi penyelundupan pangan selama Ramadan dan menjelang hari raya, khususnya di wilayah perbatasan negara dan pelabuhan penyeberangan. Salah satu daerah yang dipetakan rawan adalah Entikong, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Data penahanan komoditas pada Ramadan tahun lalu menunjukkan jumlah kasus tertinggi terjadi di Sumatra Utara sebanyak 45 kasus, Sulawesi Utara 32 kasus, dan Sumatra Barat 19 kasus.

“Untuk mengantisipasi penyelundupan pangan, kami memperkuat sinergi dengan berbagai instansi di pos lintas batas negara, pelabuhan, dan bandara. Pengawasan diperketat terutama pada jalur rawan. Komoditas tanpa sertifikat kesehatan tidak menjamin keamanan dan mutunya,” tegas Ian yang juga bertugas sebagai Pengawas Tim Ad Hoc Satuan Tugas Penegakan Hukum Barantin.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif berpartisipasi menjaga keamanan pangan dengan melaporkan setiap komoditas pertanian dan perikanan yang dilalulintaskan kepada petugas karantina.

“Kami mengajak masyarakat untuk melaporkan komoditas sebelum dilalulintaskan demi keamanan bersama. Jika menemukan indikasi pelanggaran karantina, jangan ragu melaporkan kepada kami atau instansi terkait,” pungkasnya.

Topik:

karantina pangan pengawasan komoditas Ramadan 2026 Idulfitri keamanan pangan distribusi bahan pokok